KH. Hasyim Asy’ari

Dalam panggung sejarah kemerdekaan Indonesia, nama Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari menempati posisi yang sangat luhur. Beliau bukan sekadar seorang ulama yang mengajar di surau, melainkan arsitek sosial, intelektual pergerakan, dan pilar spiritual yang menyatukan umat Islam dalam bingkai nasionalisme. Digelari Hadratussyaikh (Maha Guru), KH. Hasyim Asy’ari melahirkan warisan pemikiran dan institusi yang hingga hari ini terus menjaga keseimbangan bangsa.

Hasyim Asy'ari

Masa Muda dan Kekayaan Intelektual

Lahir pada 14 Februari 1871 di Gedang, Diwek, Jombang, Jawa Timur, Hasyim Asy’ari tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental. Garis keturunannya tersambung pada tokoh-tokoh besar, termasuk Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Sejak dini, kecerdasannya sudah menonjol. Pada usia 13 tahun, beliau sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang usianya jauh lebih tua.

Haus akan ilmu, Hasyim muda berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa dan Madura, termasuk berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Puncak pencarian ilmunya terjadi ketika beliau bermukim di Mekkah selama beberapa tahun. Di tanah suci, beliau berguru pada ulama-ulama tersohor dunia, seperti Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Di sana pula beliau mendalami ilmu hadis hingga meraih otoritas tinggi untuk mengajarkannya.

Kembalinya beliau ke tanah air membawa misi besar: memurnikan pemahaman agama sekaligus membangkitkan kesadaran pribumi atas harga diri mereka yang terkoyak oleh penjajahan.

Tebuireng: Oase Pendidikan di Tengah Kegelapan

Pada tahun 1899, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Keputusan ini tergolong nekat, sebab saat itu Tebuireng dikenal sebagai sarang kriminalitas, perjudian, dan prostitusi di dekat pabrik gula milik Belanda.

Melalui pendekatan yang santun namun tegas, beliau mengubah wilayah kelam tersebut menjadi pusat peradaban Islam Islam tradisional. Tebuireng bukan hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menjadi tempat penanaman nilai-nilai anti-kolonialisme. Santri dididik untuk mandiri dan menolak tunduk pada budaya penjajah yang merusak moral bangsa.

Nahdlatul Ulama: Membela Tradisi dan Menyatukan Ummat

Memasuki abad ke-20, arus modernisme Islam global mulai masuk ke Indonesia, yang kadang kala memicu gesekan dengan masyarakat Islam tradisional. Ditambah lagi dengan cengkeraman penjajah Belanda yang semakin mencekik.

Melihat situasi ini, setelah melalui proses istikharah dan restu dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama lainnya mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926.

NU didirikan sebagai wadah bagi para ulama tradisional untuk menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus menjadi motor pergerakan nasional.

Di bawah kepemimpinan beliau sebagai Rais Akbar (Pemimpin Tertinggi) pertama, NU berkembang pesat dan bertransformasi menjadi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, yang merekatkan persatuan ummat dari level akar rumput hingga elit.

Resolusi Jihad: Garis Depan Mempertahankan Republik

Kontribusi paling monumental KH. Hasyim Asy’ari bagi kedaulatan Indonesia terjadi pascaproklamasi kemerdekaan tahun 1945. Ketika tentara Sekutu (NICA) berniat kembali menguasai Indonesia, situasi negara berada di ujung tanduk. Presiden Soekarno kemudian mengirim utusan untuk meminta fatwa hukum membela tanah air kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Pada 22 Oktober 1945, beliau mengeluarkan fatwa bersejarah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. Fatwa ini menegaskan:

  • Membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban agama (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim yang berada dalam radius 94 kilometer.

  • Mereka yang mati dalam pertempuran melawan penjajah dinilai sebagai syahid.

Fatwa ini membakar semangat para santri, pemuda, dan rakyat jelata di seluruh Jawa Timur. Pekikan takbir dan nasionalisme bergemuruh, memuncak pada pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya. Tanpa adanya Resolusi Jihad, jalannya sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia mungkin akan sangat berbeda.

Wafat dan Warisan Abadi

KH. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 akibat pendarahan otak, setelah mendengar kabar jatuhnya Malang ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I. Beliau dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang. Atas jasa-jasanya yang luar biasa, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964.

Warisan terbesar Hadratussyaikh bukan sekadar tumpukan kitab karangannya seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim, melainkan konsep beragama yang seiring sejalan dengan rasa cinta tanah air (Nasionalisme-Religius). Beliau berhasil membuktikan bahwa menjadi muslim yang taat tidak menutup ruang untuk menjadi seorang patriot yang setia pada Indonesia. Dari rahim pemikirannya pula lahir tokoh-tokoh besar bangsa, termasuk putranya KH. Wahid Hasyim (anggota BPUPKI) dan cucunya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4.

Bagaimana bunyi teks Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan apa saja dampak konkretnya terhadap pertempuran Surabaya?

Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama NU pada 22 Oktober 1945 bukan sekadar imbauan moral, melainkan sebuah maklumat hukum fiqih yang mengikat secara spiritual bagi umat Islam saat itu.

Berikut adalah poin inti dari dokumen bersejarah tersebut beserta dampak runtunnya yang mengubah peta pertempuran di Surabaya.

Bunyi Teks Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Secara resmi, resolusi ini diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah menggelar rapat besar di Bubutan, Surabaya. Teks aslinya menggunakan ejaan lama dengan bahasa yang lugas dan tegas.

Secara garis besar, ada tiga poin utama dalam keputusan tersebut:

  1. Mohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaja menentukan suatu sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap tiap-tiap usaha jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangannja.

  2. Supaja memerintahkan mendjalankan djihad membela Tanah Air, mempertahankan Kemerdekaan Agama dan Negara kita.

  3. Menegaskan bahwa:

  • Memohon dan menuntut penjerahan kembali tanah air Indonesia jang diduduki musuh adalah kewadjiban hukum agama (fardhu ‘ain) bagi tiap-tiap orang Islam (laki-laki, perempuan, anak-anak, bersendjata atau tidak) jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masukan musuh.

  • Kewadjiban tersebut djuga berlaku bagi orang-orang Islam jang berada di luar djarak lingkaran tersebut, djika musuh telah masuk lebih djauh, menurut aturan perang (fardhu kifajah).

Poin krusial di sini adalah penetapan status Fardhu ‘Ain (kewajiban mutlak individu). Hal ini menyamakan status membela tanah air dengan ibadah wajib seperti salat lima waktu.

Dampak Konkret terhadap Pertempuran Surabaya

Resolusi Jihad menjadi motor penggerak massa terbesar pasca-proklamasi. Dampak konkretnya di lapangan meliputi beberapa hal krusial:

1. Mobilisasi Massal Laskar Santri (Hizbullah dan Sabilillah)

Sebelum fatwa ini keluar, perlawanan terhadap Sekutu didominasi oleh tentara resmi (TKR) dan pemuda terpelajar. Setelah Resolusi Jihad bergema, ribuan santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur, Madura, hingga Jawa Tengah langsung bergerak menuju Surabaya. Mereka bergabung dalam Laskar Hizbullah (milisi pemuda santri) dan Laskar Sabilillah (milisi kyai/sepuh) yang menjadi garda depan pertempuran.

2. Efek Psikologis: Menghilangkan Rasa Takut Mati

Dengan adanya fatwa bahwa gugur melawan penjajah adalah Syahid (mati mulia dalam jalan Allah), moral tempur para pejuang melonjak drastis. Senjata modern yang dibawa tentara Sekutu (Inggris/Brigade 49) kehilangan efek gentarnya di hadapan para pemuda yang maju ke medan perang tanpa rasa takut, meski banyak yang hanya bersenjatakan bambu runcing atau senjata rampasan seadanya.

3. Pemicu Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby

Kedatangan ribuan massa yang fanatik dan terorganisir di Surabaya memperkeruh situasi bagi tentara Sekutu. Ketegangan yang terus memuncak ini berujung pada bentrokan massal di berbagai titik kota pada akhir Oktober 1945. Puncaknya adalah tewasnya pimpinan tentara Inggris di Surabaya, Brigjen A.W.S. Mallaby, di depan Gedung Internatio pada 30 Oktober 1945. Peristiwa inilah yang memicu kemarahan Inggris hingga mengeluarkan ultimatum maut pada November.

4. Menjadi Bahan Bakar Pidato Bung Tomo

Bung Tomo, orator legendaris Pertempuran Surabaya, kerap sowan ke Tebuireng untuk meminta nasihat KH. Hasyim Asy’ari. Pekikan ikonik “Allahu Akbar!” yang selalu diserukan Bung Tomo lewat siaran radio pemberontakan merupakan manifestasi langsung dari semangat Resolusi Jihad. Kalimat religius itu sengaja digunakan sebagai instrumen pemersatu untuk membakar nasionalisme arek-arek Suroboyo pada puncak pertempuran 10 November 1945.

Catatan Sejarah: Hari penyerahan Resolusi Jihad ini—22 Oktober—kini secara resmi diperingati oleh Negara Indonesia sebagai Hari Santri Nasional sejak tahun 2015, guna mengenang kontribusi besar kaum santri dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.