Thomas Matulessy, atau yang lebih dikenal dengan julukan Kapitan Pattimura, adalah sosok pahlawan nasional dari Maluku yang menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan kolonialisme Belanda. Perjuangan Pattimura pada awal abad ke-19 merupakan salah satu perlawanan paling sengit yang pernah dihadapi Belanda di wilayah kepulauan rempah-rempah.

Berikut adalah ulasan mengenai jejak perjuangan dan kepemimpinan Kapitan Pattimura.
Profil dan Latar Belakang
Lahir di Saparua, Maluku, pada 8 Juni 1783, Pattimura dibesarkan dalam keluarga yang memiliki garis keturunan bangsawan. Sebelum memimpin perlawanan, ia memiliki pengalaman militer yang cukup mumpuni. Pattimura pernah menjadi sersan di militer Inggris saat kepulauan Maluku diambil alih oleh Inggris dari tangan Belanda pada masa Perang Napoleon.
Pendidikan militer dan pengalaman organisasinya membuat Pattimura memiliki kemampuan kepemimpinan dan taktik perang yang jauh lebih unggul dibandingkan rakyat sipil biasa pada masanya.
Pemicu Perlawanan (1817)
Kembalinya Maluku ke tangan Belanda pada tahun 1817 melalui Perjanjian London membawa penderitaan bagi rakyat. Belanda menerapkan kembali kebijakan-kebijakan yang sangat memberatkan, antara lain:
-
Kerja Paksa: Rakyat dipaksa bekerja untuk kepentingan Belanda tanpa upah yang layak.
-
Monopoli Rempah: Larangan bagi rakyat untuk menjual hasil bumi selain kepada pihak Belanda dengan harga yang sangat rendah.
-
Penyerahan Wajib: Rakyat diwajibkan menyerahkan hasil laut dan hasil bumi sebagai upeti.
Ketidakadilan ini memicu rakyat Maluku untuk bersatu. Dalam pertemuan rahasia di Gunung Saniri, Thomas Matulessy dikukuhkan sebagai pemimpin dengan gelar Kapitan Pattimura.
Penyerbuan Benteng Duurstede
Puncak dari perlawanan Pattimura adalah penyerbuan ke Benteng Duurstede di Saparua pada 15 Mei 1817. Di bawah komando Pattimura, pasukan rakyat berhasil:
-
Menguasai benteng pertahanan Belanda yang sangat kuat.
-
Menewaskan Residen Van den Berg beserta hampir seluruh pasukannya di dalam benteng.
-
Menunjukkan kepada kolonial bahwa rakyat Maluku memiliki kekuatan tempur yang terorganisir.
Kemenangan ini memberikan dampak psikologis yang besar. Perlawanan kemudian meluas hingga ke daerah-daerah lain seperti Ambon, Hitu, dan Seram. Pattimura juga didampingi oleh pejuang-pejuang tangguh lainnya, termasuk pahlawan wanita Christina Martha Tiahahu.
Pengkhianatan dan Akhir Perjuangan
Belanda yang tidak tinggal diam mengirimkan bantuan militer besar-besaran dari Batavia. Menggunakan taktik blokade dan penyuapan, Belanda akhirnya berhasil memperlemah posisi pasukan Pattimura.
Melalui pengkhianatan dari dalam, Kapitan Pattimura akhirnya ditangkap oleh Belanda di Siri Sori. Belanda sempat menawarkan kerja sama kepada Pattimura agar perlawanan rakyat mereda, namun dengan tegas beliau menolak.
Pada tanggal 16 Desember 1817, Kapitan Pattimura beserta rekan-rekan seperjuangannya dijatuhi hukuman gantung di depan Benteng Victoria, Ambon. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau sempat meneriakkan pesan legendaris: “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan perjuangan ini!”
Warisan dan Penghormatan
Kapitan Pattimura dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1973. Namanya kini diabadikan menjadi nama bandara internasional di Ambon, universitas (Universitas Pattimura), hingga menjadi ikon pada mata uang rupiah pecahan Rp1.000.
Perjuangan Pattimura mengajarkan tentang harga diri bangsa dan keberanian untuk melawan penindasan meskipun harus menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar. Semangatnya tetap menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia untuk terus menjaga kedaulatan tanah air.






