Jika tanah Jawa memiliki Raden Ajeng Kartini sebagai pejuang emansipasi, maka bumi kelapa Sulawesi Utara memiliki Maria Walanda Maramis. Beliau adalah sosok visioner, pemikir tangguh, dan pendidik ulung yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengangkat harkat, martabat, dan kecerdasan perempuan bumiputera. Di tengah kungkungan adat dan kolonialisme awal abad ke-20, Maria hadir membawa obor perubahan yang menerangi jalan bagi perempuan untuk keluar dari sumur domestik menuju panggung publik.
Masa Kecil dan Gairah Belajar yang Mandiri
Lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis pada 1 Desember 1871 di Kema, sebuah kota pelabuhan kecil di Minahasa, Sulawesi Utara. Kehidupan masa kecilnya tidaklah mudah. Pada usia enam tahun, ia telah menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal dunia akibat penyakit berdarah. Maria bersama kakak perempuannya, Antje, dan adik laki-lakinya, Andries (yang kelak menjadi ayah dari pahlawan nasional A.A. Maramis), kemudian diasuh oleh paman mereka, Rotinsulu, yang menjabat sebagai Kepala Distrik di Maumbi.
Di rumah pamannya, Maria mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rendah (Sektor Sekolah Melayu) selama tiga tahun. Itu adalah satu-satunya pendidikan formal yang boleh diterima oleh anak perempuan pribumi kala itu. Adat Minahasa saat itu masih memegang erat pandangan bahwa tugas utama perempuan hanyalah mengurus rumah tangga dan melayani suami, sehingga pendidikan tinggi dianggap tabu dan sia-sia.
Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan api rasa ingin tahunya. Maria memanfaatkan posisinya di rumah seorang pejabat distrik untuk bergaul dengan orang-orang terpelajar yang datang bertamu. Ia membaca banyak koran, majalah, dan buku-buku berbahasa Belanda secara mandiri. Kedewasaan berpikirnya semakin matang setelah ia menikah dengan Joseph Frederik Calusung Walanda, seorang guru bahasa pada tahun 1890. Sang suami yang berwawasan luas mendukung penuh pemikiran-pemikiran kritis Maria tentang kemajuan perempuan.
PIKAT: Wadah Kebangkitan Perempuan Minahasa
Maria menyadari bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas para perempuannya, sebab ibulah madrasah pertama bagi anak-anak generasi penerus. Kegelisahan ini ia tuangkan dalam artikel-artikel tajam di surat kabar lokal bernama Tjahaja Sian. Tulisan-tulisannya membuka mata banyak pihak tentang pentingnya kesehatan, pengasuhan anak, dan pendidikan bagi kaum ibu.
Tidak ingin pemikirannya hanya mandek di atas kertas, pada 8 Juli 1917, Maria bersama beberapa rekan perempuannya mendirikan sebuah organisasi bernama PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya) di Manado.
PIKAT didirikan sebagai wadah nyata untuk melatih para perempuan muda bumiputera tanpa memandang latar belakang sosial dan agama.
Di bawah kepemimpinan Maria, PIKAT mendirikan sekolah rumah tangga (Huishoudschool) pada tahun 1918. Di sekolah ini, anak-anak gadis diajarkan berbagai keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan untuk mandiri, seperti:
-
Membaca dan menulis
-
Memasak dan ilmu gizi keluarga
-
Menjahit, menyulam, dan merajut
-
Dasar-dasar kesehatan keluarga dan pengasuhan anak
PIKAT berkembang dengan sangat pesat. Dalam waktu singkat, cabang-cabang organisasi ini berdiri di luar Minahasa, termasuk di Gorontalo, Poso, bahkan hingga ke Pulau Jawa seperti di Batavia, Bogor, Magelang, dan Surabaya.
Pejuang Hak Politik Perempuan di Parlemen
Perjuangan Maria Walanda Maramis tidak berhenti pada urusan domestik dan keterampilan saja. Beliau melangkah jauh ke depan melampaui zamannya dengan memperjuangkan hak politik perempuan.
Pada tahun 1919, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat) dan Minahasaraad (Dewan Perwakilan Daerah di Minahasa), hak untuk memilih dan duduk di bangku dewan hanya diberikan kepada laki-laki. Maria memandang hal ini sebagai bentuk ketidakadilan yang merugikan pembangunan masyarakat.
Beliau memimpin kampanye dan lobi-lobi politik agar kaum perempuan juga diberikan hak suara (suffrage). Melalui tulisan-tulisan persuasif dan debat yang gigih, usaha Maria akhirnya membuahkan hasil yang manis pada tahun 1921. Pemerintah kolonial mengabulkan tuntutan tersebut, dan kaum perempuan di Minahasa secara resmi mendapatkan hak untuk memberikan suara serta dipilih masuk ke dalam badan perwakilan Minahasaraad.
Ini adalah sebuah kemenangan politik domestik yang sangat monumental bagi pergerakan perempuan Indonesia sebelum masa kemerdekaan.
Akhir Hayat dan Penghormatan Abadi
Maria Walanda Maramis terus aktif mengurus PIKAT dan menulis hingga akhir hayatnya. Beliau mengembuskan napas terakhirnya pada 22 April 1924 dalam usia 52 tahun di Maumbi, Minahasa.
Atas jasa-jasanya yang sangat luar biasa dalam meletakkan batu pertama emansipasi dan pendidikan perempuan di kawasan Indonesia Timur, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969.
Setiap tanggal 1 Desember, masyarakat Sulawesi Utara dan bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis. Kompleks makam dan monumen patungnya di Maumbi kini berdiri tegak sebagai simbol abadi bahwa dari sebuah desa kecil di utara Nusantara, pernah lahir seorang perempuan agung yang pikiran dan gerakannya mampu mengguncang peradaban dan memerdekakan jiwa kaumnya.





